RSS Feed

Antara Film Taken dan Blog Bang Aip

Minggu kemarin saya dan suami baru nonton Taken 2. Saya yang sudah nonton film pertamanya berharap apakah akan seseru yang pertama atau nggak. Secara action sih iya, tapi untuk jalan cerita saya lebih suka yang pertama. Tentang human traficking. Ngeri, tapi menarik.

Saat nonton film Taken saya masih naif, menganggap itu cuma sekadar film. Ya, saya tahu, human trafficking do exist, tapi hanya sekadar tahu. Tidak sampai merasa simpati. Film itu bercerita tentang anak perempuan remaja Bryan Mills (Liam Neeson) yang diculik saat travelling ke Perancis sama satu teman wanitanya. Di luar action tembak-tembakan dan pencarian jejak yang dilakukan sama si ayah, penonton dikasih secuil pemandangan yang (mungkin) terjadi di human trafficking. Mulai dari adanya ‘pemikat’ yang menginformasikan keberadaan target, sampai bagaimana para remaja wanita itu diberi obat-obatan dan dipaksa jadi PSK.

Sebenarnya human trafficking bisa berarti luas sih, tapi biasanya yang jadi sorotan adalah para wanita yang dipaksa jadi PSK.

Terus Bang Aip itu siapaah? 

Bang Aip itu blogger yang mengangkat kisah human trafficking dari matanya sendiri. Fokusnya lebih ke “pasar daging” atau penjualan wanita yang dipaksa jadi PSK. Dia sendiri hidup bersama satu orang putrinya dan bekerja di (sepertinya) Eropa bagian agak timur. Belum begitu tahu domisili persisnya di mana. Mata saya sudah langsung terfokus ke cerita ‘pasar daging’nya. Saat membaca cerita human trafficking-nya yang dikasih judul “Tentang Perburuan Wanita” secara berseri, sumpah saya merinding banget. Banget, nget. Sedikit demi sedikit mata saya benar-benar terbuka tentang PSK, terutama PSK kelas atas yang sering dikasih istilah ‘Uzbek.’

Cerita berseri dari Bang Aip itu memaparkan brutal dan kejamnya cara kerja human trafficking ini. Wanita-wanita yang dia ceritakan banyak berasal dari Eropa timur macam Slovenia dan Hungaria. Wanita-wanita ini diculik dan diperlakukan dengan sadis. Anak kecil usia lima tahunan pun jadi sasaran untuk para pedofil. Sungguh, wanita-wanita itu diperlakukan layaknya hanya sepotong daging saja, bukan seorang manusia. Yang paling ngeri adalah ada dari mereka yang dijadikan konsumsi para penggila seks yang kesukaannya sangat di luar batas. Pernah dengar film dengan label ‘Snuff’? ‘Snuff’ ini di atas BDSM, artinya seksual dengan kekerasan luar biasa. Ada yang bilang film jenis ini cuma mitos saja, tapi ternyata tidak.

Di Indonesia ada gak human trafficking ini? Kalau Indonesia masih masuk peta dunia, jawabannya iya. Kalau dulu saya masih naif dengan pemikiran para wanita yang rela jadi PSK, kini tidak lagi. Human trafficking ini macam gurita raksasa yang tangannya menggapai ke mana-mana. Gak jauh beda sama perdagangan obat-obatan terlarang. Uangnya gede dan orang-orang yang seharusnya punya kewajiban untuk menghentikannya, justru ikut-ikutan nyemplung. Lah, repot.

Makanya, yang punya anak cewek, hati-hati, ya? Apalagi kalau anaknya cantik, duuh… hati-hati. Jangan naif, menganggap ah, itu terjadi cuma di kota besar. Tetap waspada. Dijualnya dan dipasarkannya memang ke Jakarta, tapi para ‘pemikat’ ini juga ambil pasokannya ke daerah-daerah kecil. Justru daerah-daerah kecil ini yang harus waspada dua kali. Biasanya si anak cewek diiming-imingi kerja di Jakarta dengan gaji besar, kemudian malah dijadikan PSK.

Ternyata, ya, perbudakan itu masih ada. Hanya saja sekarang kemasannya berbeda. Makin miris tinggal di bumi ini. Maafin ibu karena kalian harus lahir di jaman seperti ini ya, anak-anakku *kusuk-kusuk perut*

Pertama Kali Menang Kuis!! *pity*

Sejak suami melungsurkan Blackberry-nya ke saya, saya jadi rajin baca timeline di Twitter. Setelah 3 bulanan ber-twitter, mulai ngerti kenapa banyak orang yang (agak) sulit jauh-jauh dari hapenya. Saat kita mem-follow akun-akun yang tepat, seisi linimasa seakan-akan menjadi deretan tulisan yang menarik dan penuh informasi. Sampai-sampai kalau lagi gak ada kerjaan suka stalking twitwar :))

Anyway, di Twitter juga banyak akun-akun yang sering ngadain kuis dengan hadiah kecil-kecilan. Kebanyakan ngasih hadiah berupa buku. Ada juga yang berupa vocer belanja di Carrefour. Saya sendiri kebanyakan follow akun-akun tentang pregnancy, ASI dan juga parenting.

FYI nih, dari dulu saya gak pernah menangin hadiah dari kuis apa pun. Sebelum ikut selalu udah skeptis duluan, “halah, mana mungkin menang?” Hasilnya ya gak pernah menang beneran lah! Orang gak pernah ikutan -__-

Tapi suatu kali @HypnoBirthingID ngadain kuis ulang tahun. Saya gak terlalu berminat ikut, karena pertanyaannya selain gak bisa jawab, juga kurang tergoda sama hadiahnya. Sampe mereka mengajukan pertanyaan, “Sharing tentang pengalamanmu berkomunikasi dengan janin!” nah, kalau ini, apa pun hadiahnya, saya pengen ikut, karena ada beberapa kejadian yang menurut saya cukup amazing saat saya berkomunikasi dengan si kembar. Saat itu bahkan saya gak berminat sama hadiahnya, sayabenar-benar cuma mau berbagi kalau ini lho, janin itu mengagumkan. Mereka bisa diajak bicara dengan cara yang tepat.

These were my tweets:

Okeh, muna banget lah saya kalau gak pengen hadiahnya. Saya tetep pengen, bukan karena nilainya, tapi lebih ke arah ingin “didengar” dan mendapat “apresiasi”. Dan ternyata menang beneran lho, xixixix… Hadiahnya juga lumay banget. Dapet buku “Mencerdaskan Janin Sejak dalam Kandungan” :)

Congrats, me!

Mengapa Kami diberi Kembar?

Sebenarnya pertanyaan itu baru terbersit akhir-akhir ini, sebentuk penyadaran dari perjalanan kehamilan yang sekarang masuk minggu ke 32. Kalau dilihiat dari bentuk perut, perkembangan si kembar makin signifikan. Dari kehamilan 5 bulan yang orang selalu bilang, “kok kecil, ya?” setelah tahu saya sedang hamil kembar (minta dijejeg), sampe pertanyaannya berubah jadi, “udah 9 bulan ya, mbak?” padahal baru 7 bulan (dan rasanya emang kayak lagi hamil 9 bulan)

Sering mikir, kenapa kami yang diberi kembar? Kedua kakak saya semuanya hamil singleton. Dan gen kembar pun garisnya jauh sekali dari saya, yaitu adik dari ibunya bapak saya. Nah lho, nyebrang pula. Saya lupa, pernah atau tidak waktu kecil atau jaman pubertas berangan-angan punya anak kembar. Mungkin pernah. Karena siapa sih yang gak tertarik liat anak kembar jalan beriringan? Kesannya kan lucu gitu.

Tapi sungguh, gak pernah nyangka akan dikasih kembar. Saudara jauh memang ada yang punya anak kembar, tapi itu karena bayi tabung dan kemungkinan kembar di program itu memang cukup tinggi, jadi gak pernah terbersit akan diberi anak kembar. Tapi setelah 7 bulan menjalani, saya mulai bisa memahami mengapa kami diberi kembar (di luar kenyataan bahwa saya mungkin saat pembuahan lagi yang subur abis karena ovumnya 2)

Saya gak ambil contoh jauh-jauh, kakak pertama saya aja lah. Kenapa janin yang dikandungnya bukan kembar? Mungkin karena suaminya (sekarang mantan) waktu itu tidak bisa mendampinginya setiap saat sampai-sampai di bulan ke 6, kakak saya tinggal di rumah ibu di Malang, sementara suami kerja di Jakarta. Padahal yang namanya ibu hamil itu selalu butuh dukungan lingkungan, apalagi hamil kembar. Atau mungkin juga karena kakak saya waktu hamil masih tergolong muda, jadi tingkat kebijaksanaannya masih belum cukup kalau diberi amanah untuk punya anak kembar. Kemudian kakak ke-2 (kakak ipar lebih tepatnya). Walaupun mereka tinggal di satu atap di rumah saya, tapi kakak saya yang sedang ambil spesialisasi bedah bisa dikatakan sangat sibuk. Dan hubungan kakak ipar yang tinggal serumah dengan ibu saya sebagai mertua juga tidak bisa dikatakan baik. Janin butuh lingkungan yang sangat mendukung untuk bisa membuat ibu hamil terus merasa senang dan bahagia, dan sepertinya itu belum bisa didapatkan. Dua kali hamil, dua kali pula singleton.

And then me. Us. Pertama, mungkin karena pernikahan kami benar-benar direstui kedua belah keluarga. Tidak ada embel-embel selesein ini itu dulu, kenal dulu lebih jauh dan sebagainya. Kedua, gak bermaksud menye-menye, but we really love each other, we do. Ketiga, hobi saya mencari informasi sampai sejauh-jauhnya mengenai kehamilan, persalinan, dan parenting adalah bekal yang menurut saya penting banget. Dengan sadar diri bahwa saya orang yang holistik, semakin saya percaya bahwa kelahiran normal minim intervensi adalah yang terbaik untuk si kembar.

Hampir setiap hari semenjak janin umur 3 bulanan sudah rajin saya ajak komunikasi. Semua pengetahuan yang bisa saya cari di internet tentang persalinan saya lahap. Thank God for the internet, keluhan-keluhan kecil macem capek ini itu, berubah ini itu bikin hati lebih tenang dan gak gampang panik. Well, itu dan hypnobirthing sih. Sampai meguru ke Klaten untuk belajar hypnobirthing dan persalinan pun kami jabanin. Keempat, semestinya kondisi umur yang udah tua ini juga jadi faktor :”)

Satu lagi, si ayah yang seorang indigo benar-benar amat sangat membantu. Selain sabar dan ngadem-ngademin saya yang selama 2 bulanan perasaannya sensitif banget, dia juga ngerti gimana dan apa yang lagi dipengenin sama si kembar. Tapi saya juga berusaha untuk gak mau sering-sering nanya ke dia tentang si kembar, karena nanti yang ada malah kepekaan saya sebagai seorang ibu jadi berkurang.

Intinya, saya merasa semua kondisi di sekitar saya amat sangat mendukung. I’m ready for having a twins :)

Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 2)

Akhirnya, pada awal abad ke-16, tulisan-tulisan Soranos ditemukan kembali. Kalangan medis, yang terdorong oleh hati nurani mereka untuk menentang ajaran yang sudah ada, mulai tertarik. Terciptalah buku pertama tentang kebidanan (obstetri) Pada saat itu, bidan kembali berperan, tapi derajatnya menurun drastis, hanya dianggap sebagai pekerjaan yang kurang berharga. Bahkan pendeta asal Jerman, Martin Luther, pun berkata “biarkan para wanita itu meninggal saat melahirkan, memang itu tugas mereka.” Jerman merupakan tempat di mana pembunuhan terhadap dukun paling banyak terjadi.

Seiring dengan munculnya jaman Renaissance, keadaan wanita bersalin menjadi lebih baik, walaupun penggunaan kloroform yang digunakan secara luas untuk semua tindakan medis tidak berdampak apa-apa untuk mengurangi penderitaan mereka. Bahkan seorang pendeta di Amerika berkata bahwa dengan melakukan hal itu, kesukaan Tuhan akan “tangisan minta tolong yang mendalam dan jujur dari mereka” akan direnggut. Sekali lagi, kita melihat kepercayaan salah kaprah dari manusia, bukan Tuhan.

Pada akhir tahun 1800-an, Ratu Victoria bersikeras untuk menggunakan kloroform saat melahirkan dan terbukalah pintu penggunaan anestesi untuk persalinan. Tapi hal ini justru menimbulkan bahaya lain dalam persalinan; melahirkan mulai berpindah ruangan, dari rumah ke rumah sakit. Bukan karena melahirkan adalah suatu hal yang sangat berbahaya kalau dilakukan di rumah, tapi karena penggunaan anestesi terlalu berbahaya jika diberikan di rumah. Jadi wanita yang ingin mendapatkan anestesi saat melahirkan harus pergi ke rumah sakit. Suami dan keluarga tak lagi menjadi bagian dalam proses melahirkan. Dimulailah era baru dan pendekatan baru persalinan.

Jaman dulu, bangsal rumah sakit untuk ibu melahirkan memiliki keadaan yang sangat menyedihkan. Angka kematian bayi dan ibu terbilang tinggi, bukan akibat komplikasi atau risiko persalinan, tapi karena bayi dan ibu terpapar kuman-kuman penyakit dari pasien lain sehingga menimbulkan infeksi. Angka kematian yang tinggi tidak menjadi masalah karena dianggap sebagai takdir dan mengabaikan fakta bahwa angka kemarian wanita yang melahirkan di rumah jauh lebih rendah, sehingga ketakutan akan mati akibat melahirkan menjadi momok yang menakutkan bagi ibu melahirkan. Sulit dibayangkan wanita jaman itu menyambut hari persalinan tanpa dihantui perasaan ketakutan. Jelas sudah bahwa melahirkan tak lagi dianggap sebagai suatu peristiwa perayaan. Dan di mata para wanita itu sendiri, rasa sakit melahirkan adalah hukuman yang harus dijalani wanita sepanjang masa.

Kemudian muncullah Florence Nightingale, perawat wanita yang mengubah keadaan bangsal ibu-ibu bersalin yang menyedihkan menjadi jauh lebih baik. ia menerapkan standar sanitasi dan kebersihan yang sama dengan bangsal-bangsal lain di rumah sakit.

Tapi semua itu sudah terlambat. Pendulum pemberian anestesi bergerak lebih cepat, dari yang awalnya tak ada pengawasan menjadi pengawasan berlebih. Pemberian obat-obatan secara dini dan anestesi menjadi standar untuk semua persalinan–needed or not, karena sudah dipercaya bahwa melahirkan pasti selalu menimbulkan rasa nyeri. Persalnan dengan obat bius, kepala bayi ditarik dengan alat, sudah menjadi hal rutin. Hilangnya rasa sakit bagi wanita yang bersalin dan manfaat yang didapatkan dari para petugas kesehatan sudah menjadi aturan main saat itu, dan sepertinya, sampai sekarang.

Sekarang, walaupun sudah banyak sumber yang mengatakan sebaliknya, tetap banyak orang yang berkecimpung dalam pelayanan ibu hamil, dan bahkan wanita itu sendiri yang terus menerima mitos bahwa nyeri adalah bagian dari yang tak terpisahkan dari proses bersalin. Bisa dikatakan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan seorang ibu saat melahirkan adalah bergantung pada petugas kesehatan, hanya menerima semua tindakan dan tidak belajar cara mencegah terjadinya masalah sebelum itu terjadi.

Pemberian induksi hampir secara rutin diberikan tanpa ada indikasi yang kuat. Obat-obatan artifisial itu menyebabkan rasa sakit yang mendalam selama persalinan sehingga membutuhkan obat lain untuk mengatasi rasa sakit itu, sampai akhirnya dilakukan pembedahan (Cascade Intervention). Akibatnya, banyak keluarga yang menceritakan tentang rasa sakit yang berlangsung lama, pemberian bermacam-macam obat, rahim yang tak mau membuka, pembedahan dan kebanyakan tentang rasa tak berdaya. Semuanya menghasilkan trauma tak berguna bagi ibu dan bayinya.

Mengapa wanita mengalami hal-hal ini? Mengapa tubuh wanita yang diciptakan dengan sempurna untuk melahirkan, “menolak” bahkan sebelum persalinan dimulai? Mengapa banyak sekali wanita membutuhkan operasi untuk mengeluarkan bayi mereka–suatu prosedur yang 40 tahun lalu sedemikian jarang terjadi sehingga dipandang sebagai kejutan?

Jawabannya dapat ditemukan dalam dua kata: rasa takut.

Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 1)

Bo’ong kalau ada wanita yang bilang gak takut melahirkan, kecuali seumur hidupnya dia memang selalu mendengar cerita-cerita yang indah mengenai persalinan. Ya sebenarnya gak bisa menyalahkan juga, karena memang sekeliling kita dipenuhi sama cerita-cerita persalinan yang penuh penderitaan. Belum lagi adegan di tivi yang juga gak ada bedanya. Penuh teriakan, ketegangan, horor deh pokoknya.

Tapi, tahukah Ibu, bahwa ternyata rasa takut pada persalinan itu ada sejarahnya? Semuanya tidak serta merta terjadi. Tulisan ini saya baca di buku “HypnoBirthing” karya Marie Mongan. Cuma bisa geleng-geleng kepala saat membacanya. Yang ada di kepala cuma; ternyata… oh, ternyata… Buat yang gak suka sejarah, saya sarankan berhenti saja di sini, karena tulisannya agak panjang. Tapi untuk wanita yang ingin tahu, terutama wanita hamil, saya sarankan baca sampe abis ya. Pengetahuan macam gini gak mungkin saya simpan sendiri. Sejarah ini menurut saya cukup kelam untuk para kaum wanita, bahkan saat membaca pun saya ikut merasa takut.

Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa melahirkan itu identik dengan rasa sakit. Istilah di atas rasa sakit ya derita. Duh, dosa apa wanita sampai harus menderita untuk melahirkan malaikat kecil tak berdosa? Nah, pertanyaan itu saja sudah memicu banyak kontroversi. Yang sudah menjadi takdir dan kutukan wanita lah, yang karena dosa Hawa turun temurun lah, macem-macem deh. Padahal waktu saya cari di ayat Al-Quran, tak ada ketetapan dari Allah bahwa persalinan/melahirkan itu dipenuhi dengan derita. Yang ada justru proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu yang ajaib.

Pada Alkitab, kata-kata Yahudi etzev, diterjemahkan untuk memberikan makna “kerja keras, usaha” dalam hampir kebanyakan Alkitab. Tetapi ketika merujuk pada peristiwa persalinan, kata etzev diterjemahkan menjadi “nyeri, penderitaan, atau kesakitan”. Menurut Helen Wessel, penulis The Joy of Natural Childbirth, sebenarnya tidak ada kutukan yang serta merta dijatuhkan pada Hawa. Dalam kitab kejadian, Tuhan mneggunakan kata-kata yang sama saat bicara pada Adam, seperti juga pada Hawa. Tapi para penerjemah yang mendapat pengaruh oleh berbagai kondisi menakutkan seputar persalinan memilih untuk menerjemahkan ucapan yang disampaikan pada Hawa secara berbeda (Mongan, 1992: 42)

Apa yang terjadi di jaman dulu?

Kita mundur sejauh 3000 SM, di mana saat wanita melahirkan secara alami dengan hanya sedikit rasa tak nyaman, kecuali jika terjadi komplikasi. Sebelum kelahiran Nabi Isa, banyak catatan sejarah menulis bahwa persalnan sering kali selesai dalam waktu kurang dari tiga jam. Tidak ada catatan bahwa “kutukan” berperan dalam kepercayaan mereka atau persalinan mereka.

Dulu, kehidupan manusia berpusat pada alam dan ibu (semacam ibu pertiwi). Mereka memuja Ibu Alam, Ibu Bumi, dan Ibu Pencipta. Wanita dianggap sebagai pemberi kehidupan. Sebagai manusia yang bisa melahirkan, wanita dianggap terhubung dengan Tuhan. Patung dewi pemujaan jaman itu pun umunya berbentuk wanita berpayudara penuh dengan perut buncit seperti akan melahirkan. Orang-orang jaman dulu memang menganggap persalinan sebagai manifestasi alam tertinggi. Jika seorang wanita melahirkan, orang-orang akan mengelilinginya di kuil sebagai “penyambutan/perayaan kehidupan yang baru.” Kala itu, melahirkan merupakan upacara keagamaan, bukan penderitaan seperti yang terjadi bertahun-tahun kemudian.

Saat Hipokrates dan Aristoteles yang merupakan pelopor mahzab kedokteran Yunani, pergeseran nilai tentang persalinan normal pun tak disebutkan. Masa iya rasa sakit saat melahirkan lolos dari pengamatan dua pria jenius ini? Kan gak mungkin.  Mereka percaya bahwa kebutuhan dan perasaan wanita yang sedang melahirkan perlu didukung oleh orang-orang yang bersedia membantu. Bahkan Hipokrates-lah yang pertama kali menyusun instruksi formal bagi wanita yang berkecimpung di dunia kebidanan, sedangkan Aristoteles menulis hubungan antara tubuh dan jiwa serta menekankan pentingnya relaksasi yang mendalam selama persalinan. Jika ada komplikasi, wanita dibawa ke keadaan relaksasi sehingga komplikasi tersebut dapat diatasi dan diobati.

Soranos, pria terpelajar lain, merangkum tulisan Aristoteles dan Hipokrates sehingga berbentuk buku. Di buku itu, Soranos menekankan pentingnya kita mendengarkan kebutuhan dan perasaan ibu yang sedang melahirkan dan menganjurkan kekuatan pikiran untuk mencapai relaksasi sehingga persalinan dapat berlangsung lancar. Sama seperti pendahulunya, Soranus tidak menyebutkan soal rasa nyeri, kecuali saat menulis tentang persalinan yang abnormal atau sulit. Saat bersalin, wanita dilayani dengan lembut, penuh kasih dan kegembiraan. Semua ini bertahan sampai ribuan tahun.

Pada akhir abad 2 SM, semua ini berubah. Gelombang kebencian terhadap wanita dan terutama pada bidan, tabib dan wanita bijaksana yang selama ini menjadi instrumen vital dalam proses persalinan menyebar luas. Kebencian ini–yang sayangnya dipimpin oleh beberapa orang Kristen yang salah arah–berkembang menjadi bencana bagi kaum wanita di mana para dukun wanita, yang dulu memiliki posisi tinggi dalam masyarakat, dibantai karena keterampilan mereka dalam merawat dan menyembuhkan.

Anggapan bahwa segala hal penting yang berasal dari alam dipandang sebagai kejahatan yang serius, dan semua tulisan mengenai penyembuhan alami disita dan dikubur. Dan yang sangat disayangkan, buku Soranus pun mengalami nasib yang sama sehingga konsep persalinan alami pun terkubur. Pada masa inilah Santo Clement dari Aleksandria menulis: “Setiap wanita seharusnya dipenuhi rasa malu pada pemikiran bahwa mereka adalah wanita”.

Hukum kemudian mengharuskan wanita dipisahkan selama kehamilan dan diisolasi selama persalinan. Otoritas medis dan penyembuhan saat itu dipegang oleh pendeta dan rahib sehingga dokter perlu meminta ijin untuk membantu “mereka yang layak menderita”. Karena wanita dianggap sebagai perayu dan kehamilan adalah hasil dari dosa jasmani, maka wanita melahirkan tidak dianggap sebagai orang yang layak ditolong. Orang-orang medis dilarang untuk membantu persalinan bahkan saat persalinan itu bermasalah. Profesi bidan dihilangkan sehingga wanita yang melahirkan pun terisolasi, tanpa bantuan, dan mengalami ketakutan. Dengan ditulis melalui beberapa fatwa, persalinan–yang dulu merupakan sebuah perayaan–berubah dejatnya menjadi pengalaman yang meyakitkan dan sangat ditakuti sehingga harus dijalani dalam kesendirian.

Bersambung ke Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 2)

7 Months Summary

Lama banget sejak posting terakhir Januari lalu. Rentang waktu 7 bulan itu, ternyata bisa banget bikin orang yang hobi banget bikin kue sampe sama sekali ogah megang mixer. Bosen? Yaa… bisa jadi salah satu alasan. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai faktor hormonal.

Setelah sekian tahun sendiri dan mencari, siapa yang nyangka kalo ternyata si calon pendamping hidup gak pernah jauh-jauh dari sisi saya semenjak pindah ke Malang? Dari dulu saya selalu sadar bahwa saya bukan orang yang gampang jatuh hati sama seseorang. Kalaupun suka, si cowok pasti seseorang yang emang udah dekat sebelum ngerasain perasaan yang lebih mendalam. Dan bener aja, si calon gak jauh-jauh ternyata temen SMA yang saat SMA gak saya kenal, tapi dia tahu saya, dan yang mengajak saya untuk jadi guru di SMA 5, Malang. Cowok yang gak terhitung lagi berapa kali saya samperin di kantornya cuma untuk sekadar nyapa, ato bahkan untuk ngadem di kantor kurikulum yang ber-AC. Cowok yang sering banget ngajakin makan siang kalau lagi ada jam kosong. Cowok yang waktu awal sempat saya sangka naksir saya, tapi ternyata gak (ge-er aja sih lo!) karena sering banget minta temenin ke sana ke mari. Cowok yang pas mau jadian sama guru lain bener-bener dapet dukungan saya. Ya, dia. Isdah Ahmad. Guru slash wedding photographer.

Cuma sebulan sejak Juni 2011 akhirnya saya berani mengambil keputusan untuk menikah, sementara dia sudah mantap untuk niat menikah sejak awal kami memulai hubungan. Keputusan itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Deg-degan khawatir juga nggak, malah excited. Kayak yang semua akan berjalan dengan semestinya. Atur ini, atur itu, stress dikit, stress banyak, akhirnya 17 Februari 2012 akad nikah pun selesai.

Niat hati gak pengen langsung hamil, pengen main-main dulu, segak-gaknya hanimun laah. Gak jauh-jauh kok, ke Bali aja. Tapi Allah berkata lain, apalagi disertai doa suami yang emang langsung pengen punya anak, disertai masa yang (terlalu) subur pula, sebulan berikutnya periksa ke dokter ternyata kantong rahim udah kebentuk.

Pagi-pagi, dua minggu sebelum ke dokter, saya merasakan dorongan mendesak untuk test pack, langsung setelah bangun tidur. Sampe sekarang juga gak ngerti kenapa. Lima menit setelah dua garis di test-pack muncul dan disambut sama suami di depan pintu kamar, air mata langung jatuh. Perasaan campur aduk, dan rasa bahagia cuma ada sekitar 20% dari sekian banyak emosi yang terasa. Kebanyakan malah rasa takut, gak yakin, pokoknya negatif semua. Pelukan suami malah memperparah tangisan saya. Dua jam penuh air mata gak berhenti, sampai akhirnya tiba di titik; ok, I can accept this.

Sebenarnya butuh waktu sebulanan sampe diri benar-benar ikhlas dan bisa bahagia menyambut calon anak. Sebulan itu saya menghabiskan waktu banyak sekali baca-baca informasi tentang kehamilan dan persalinan. Dari awal sebelum hamil, otak ini udah terlalu banyak diracuni sama cerita-cerita tentang kelahiran, sampai-sampai saya udah sampai di titik: Caesar aja ah… Gampang. Semuanya berubah saat seorang teman ngasih tahu tentang Gentle Birth. Sesuatu yang mengubah cara pandang saya terhadap kelahiran, apalagi buat saya yang selalu tertarik dengan ilmu holistik.

Kali ke dua kontrol ke dokter, ternyata USG memperlihatkan adanya dua kepala janin. Heh? Dua?? Astaga… Allah baik banget ke saya? Tapi toh tetep aja saya gak bisa langsung bersyukur saat itu juga. Lha, gimana? Sebulan itu diri cuma mempersiapkan kehamilan singleton, bukan kembar. Manalah nyangka kalau bakal ada dua janin di perut saya? Tiga keponakan saya juga singleton semua, gak ada yang kembar. Kenapa ini kembar harus nemplok di saya? Sempet kepikir gitu. Kurang ajar banget yah saya? Tapi mostly, setelah keluar dari dokter, otak saya blank.

Butuh waktu sebulan lagi untuk akhirnya bisa mensyukuri anugerah itu. Lama ya? Yaa, mana ada sih ikhlas itu instan?
Dan ilmu Gentle Birth benar-benar bisa menenangkan saya, bahwa kembar pun bisa lahiran normal dan alami kok. Gabung ke forum Gentle Birth juga sangat membantu. Otak pun serta merta mem-blocking cerita-cerita buruk tentang persalinan dan kelahiran.

Awalnya sempat skeptis sama suami yang kayaknya nggak acuh sama pandangan saya tentang Gentle Birth. Tetep mendukung, cuma gak excited. Saya gak protes banyak, cuma kadang-kadang emang suka kasih tautan berita ke dia. Sampe mau latihan ke Klaten untuk hypnobirthing pun dia tetap mendukung kok. Dan ternyata dukungannya semakin keliatan saat kami pulang dari Klaten. Sampe-sampe saya keder sendiri karena dia lebih bersemangat daripada saya. Apa lagi yang bisa saya minta dari seorang suami? :)

Masih tersisa kurang lebih 2 bulan lagi menjelang kelahiran. Si kembar makin aktif di dalam perut. Gak pernah terbersit kata-kata gak sabar ketemu mereka. Mereka akan lahir di waktu yang tepat, dan saya akan siap menyambut mereka :)

Jackfruit-Coconut Ice Cream Recipe (Rustic-modern Style)

I once tried to check dunialely with Alexa. Not that I hope my blog will at least have rank like Joy the Baker, I was just curious whether I even have a rank. My blog has it. About 14 million something. 14 million…something *sigh*

Also I get annual report from WordPress and found out that my reader is not just from Indonesia, because surprisingly, USA and Canada are following. I have a feeling after they read the first sentence, which is written in bahasa Indonesia, they might close my blog immediately.

It’s jackfruit season in Indonesia, therefore I choose this recipe to be written in English version. I browse several recipe, and found out that most of jackfruit ice cream recipes use only milk. I use coconut milk instead. The savory flavor of coconut milk works like magic with jackfruit. This also a combination that use for es teler, the famous Indonesian dessert thats basically contains with shredded jackfruit, avocado, and coconut meat, poured with  shredded ice, sugar syrup, and coconut milk. Delish.

Jackfruit

Jackfruit ice cream also a traditional dessert in Indonesia. We use to call it as es puter. As you know, jackfruit and coconut are all tropical fruit, so it’s fair to say that it’s a lot harder for making blueberry (very much expensivo) ice cream than this here in Indonesia. The original version of es puter use only coconut milk, without heavy cream. I also use pandan leave to make the coconut milk more fragrant. This is rustic style.

This recipe is super easy. And is you have ice cream maker, it’s combo easy.

Jackfruit ice cream

 Jackfruit-Coconut Ice Cream

Ingredients:

  • 250 ml coconut milk
  • 250 ml heavy cream
  • 90 gr caster sugar
  • 1 cup jackfruit (about 200gr)
  • 2 pandan leaves
  • Pinch of salt

Instructions:

  1. Peel jackfruit and remove the seed. Blend with small amount of water until smooth. Let it cool in the fridge. You can set aside few jackfruit to be cut in cube.
  2. Heat coconut milk, sugar, pandan leaves and salt until medium heat or just until the sugar dissolve. If you use instant coconut milk, you don’t have to boil it. Remove from heat and let it cool in the fridge for about 1-2 hours.
  3. Remove pandan leaves from coconut milk before mixed together with blended jackfruit and cold heavy cream. Mix until thoroughly blend.
  4. From here, those who has ice cream maker can processed it according to the manufacturers instructions. But those who doesn’t, chill it in the freezer until the mixture in side of bowl starting to form ice. Scrape it with fork, and mix it until the ice dissolve. Repeat the step for about 3-4 times, so you can have a smooth texture ice cream.
  5. Once the mixture reach consistency of ice cream, mix in the shredded jackfruit. Chill it on the freezer overnight. If the ice cream is too hard to scope, put it in a fridge for about 5-10 minutes.
  6. Serve it on a sunny day :)