RSS Feed

Rasa Itu Pilihan

Posted on

Gak nyangka resensi film “Up In The Air” di sini bisa menggelitik gue untuk langsung mengambil film ini pas gue lagi mati gaya dan butuh film untuk menghilangkan kesuntukan gue.  Gue pengen lihat, bisa se-heartless apa Ryan Bingham (George Clooney)? Kalau memang pekerjaannya adalah memecat orang (whether this career truly exist, I never know ) benarkah dia murni tidak memiliki rasa simpati sedikit pun ke orang yang dipecatnya? Atau dia hanya memilih untuk mengabaikan rasa simpatinya?

Gue pikir George Clooney akan memerankan tokoh yang sok, dingin, dan… yah, heartless. Tapi, tidak. Ternyata dia tampil percaya diri, easy going, dan – gue suka ini – selalu dengan ekspresi yang tidak terbaca. Thumbs up for the poker face, Mr. Clooney! Pada akhirnya, memang pekerjaan dialah yang mengharuskan dia untuk bersikap heartless. Waktu yang banyak dia habiskan di udara, untuk pergi dari satu perusahaan ke perusahaan lain di negara bagian yang berbeda, adalah waktu luang yang menyenangkan untuk dia. Sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak mau dia pikirkan.

Terilhat seperti tidak membutuhkan teman hidup, menikmati kesendirian, ternyata semua itu hanya sebuah tembok dari nilai hidup dia yang memercayai “In the end, we all die alone.”. Tapi, ternyata tidak menghentikan dia menyatroni rumah Alex yang ternyata telah berkeluarga. Yes, in the end, he needs companionship.

Gue ngerti jalan pemikiran itu. Sebuah tembok yang dibangun sebagai bentuk perlindungan diri. Gue ngerti, karena itu yang gue lakukan. Banyak yang bilang kalau gue itu orangnya cuek, gak pedulian, gak sensitif, dan semua istilah lain yang merujuk ke arti perasaan yang tumpul.

Gue terlihat seperti itu karena gue memilih untuk mengabaikan perasaan yang bisa menyakiti gue. Semua cerita dan pengalaman yang gue anggap bisa membuat gue takut, gue pilih untuk tidak ambil peduli. Tapi, pada akhirnya pun, gue tidak bisa menampik, sejauh apa pun gue tidak peduli, pengalaman itu tetap membekas dan mempengaruhi hidup gue.

Sepertinya akar dari kebiasaan gue ini muncul saat masa kecil gue yang tidak dekat dengan kakak-kakak gue di mana akhirnya membuat gue melakukan semuanya sendiri.

Sudah dua orang yang bilang, “Enak ya, bisa cuek.” Kalimat itu membuat gue berpikir, enak dari mana? Oh, rupanya enak karena tidak usah merasakan sakit hati. Ah, gue tetep merasakan sakit hati kok. Cuma kalau orang lain merasakannya selama seminggu, gue mempersingkat jadi 2-3 hari saja. Emosi dan perasaan itu bisa dikontrol kok. Lebih tepatnya, kita bisa memilihkan untuk perasaan kita harus merasa apa. Yaa, memang ada yang namanya hati kecil yang selalu bawel untuk ngasih tahu yang sebenarnya. Tapi, dia bisa dikontrol kok :D

Life is a choice with all the consequences.

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

One response »

  1. woaaaalaaa… baluw lagii… gud gud.. keep writing Dude! :D

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: