RSS Feed

Suddenly Bali

Posted on

Niatnya emang langsung up date blog begitu sampai rumah, tapi gue gitu lho, bullshit aja kalau gue sampe langsung melaksanakan what-so-called niat itu. Apa lagi 2 minggu setelah gue pulang dari Bali, deadline terjemahan menanti.

Apparently, tindakan gue yang terkadang terlalu impusif, membawa gue sampai ke Bali tanpa ada persiapan yang matang. Diawali dengan ajakan si Poni yang tiba-tiba aja mem-publish berita di email kalau dia mau ambil diving certificate di Tulamben, Bali. Entah apa yang menyamber gue  saat itu, yang jelas gue langsung reply dengan “gue ikut”. Nggak tau ikut apa, yang jelas gue mau ke Bali.

2 minggu kemudian, dengan persiapan seadanya, browsing, bikin jadwal liburan seadanya, cari teman di Couch Surfing, berangkatlah gue tanggal 13 Mei 2010, ke Bali. Sebenarnya gue bisa aja berangkat dari tanggal 11 Mei, secara (jiaah.. secara..) gue udah gak ada jadwal ngajar sampe minggu depan, tapi dengan pertimbangan bahwa kocek gue tidak setebal itu untuk menghabiskan waktu selama 5 hari di Bali, akhirnya gue pun memilih untuk berpikir lebih realistis.

PP Malang-Bali hanya merogoh kocek sebanyak Rp 300.000 naik Cipaganti Travel. Ini dia yang membuat gue makin semangat berangkat ke Bali. Gak peduli walopun gak ada teman yang bersedia nemenin. Dalihnya macem-macem; yang bilang terlalu mendadak lah, gak punya duit lah, ini lah, itu lah, aah.. banyak. Whatever,  I’m still going either way. Gue juga gak punya duit senormal orang lain akan berangkat ke Bali, tapi gue tetep ngeyel tuh berangkat ke Bali.

Kapal ferry Ketapang-Gilimanuk

Seperti orang udik lain yang selalu menuju ke Kuta saat pertama kali menginjakkan kaki ke Bali, gue pun melakukan hal yang persis sama. Selama sebulan gue berusaha memperlajari Bali hanya lewat google map, gue pun minta travel untuk nurunin gue di depan Poppies Lane I, di mana gue udah nge-booking hotel barengan temen CS yang kebetulan lagi liburan ke Bali di saat yang sama. Dan di saat gue menyusuri Poppies Lane, sungguh, gue nyesel, ngapain coba gue booking hotel, padahal di situ hotel-hotel kelas melati seharga Rp 75.000-an bertebaran. Literally bertebaran. Well, lesson number one: Ga usah takut gak dapet penginapan di Bali, walaupun go-show sekalipun. Yah, kecuali itu high-season tentunya.

Untungnya hotel yang gue tempati patungan dengan orang yang sama sekali belum pernah gue temuin (fyi, dia cewek), emang bagus. Harga emang gak pernah bo’ong. Gue patungan sebanyak Rp 165.000 max. untuk satu hari. Jujur, harga segitu masih di luar budget gue, tapi gue udah terlalu males buat cari penginapan yang lebih murah. Ternyata perhitungan rate di hotel ini menggunakan jumlah orang yang menginap di kamar. My room mate adalah PNS cewek dari Jakarta yang hobinya diving. Jadi di pagi hari, jam 7.00, gue sampai di hotel, dia lagi-lagi siap-siap buat berangkat ke Tulamben, Bali. Hm, mungkin dia bakalan ketemu temen gue yang lagi ambil diving certificate di sana, pikir gue dengan bodohnya.

Hotel Sorga, Poppies Lane I, Gang Sorga.

Begitu sendirian, gue langsung tidur sampe siang. Karena sumpe, gue bener-bener gak bisa tidur di mobil travel. Jam 12 tet, gue bangun, mandi, sholat, dan bersolek “siap perang” di Legian. Peralatan perang; digicam, kaca mata item, sun block, udah siap semuanya.

1st destination; cari makan! Berbekal keterangan dari front office hotel, gue disarankan untuk menyusuri jalanan sepanjang Gang Sorga, dan Poppies Lane I dan II. Setelah melenggang cuek keluar dari dua rumah makan yang ternyata mengandung tidak halal, gue nemuin satu rumah makan yang…  apa ya? Istilahnya gue berasa jadi anak kos lagi. Tempatnya sederhana, langit-langitnya tinggi dengan kipas angin di sana-sini, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan yang bertemakan reggae, isu politik, dan free spirit. Namanya “Warung Makan Indonesia”. Amazingly, gue cuma abis Rp 9.000. I immediately fall in love with this warung, ahahhaa… dasar traveler kere!

Gue menghabiskan 2 jam di tempat itu. Sejam pertama gue habiskan dengan memandang para kaukasia yang–entah kenapa mereka semua kok kelihatan keren-keren ya?–bertebaran di depan warung itu, sejam berikutnya gue habiskan dengan ngobrol dengan kasir cewek yang ramah banget. Dia ketawa denger “keisengan” gue jalan ke Bali sendirian.

Kelar makan, gue sama sekali tidak berminat langsung menuju Kuta. Been there, done that. What’s never been done is roaming along Legian Street! Yeeah! Ah, sumpah, gue udik banget deh.

Ground Zero Monument

To be continued…

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

2 responses »

  1. wenaaaaak.. eh tapi temenan koq pas iku aku lagi bokek :p

    Reply
    • hihi… alasanmu sing tak eling uduk bokek pak. tapi mendadak. brarti aku salah yo? :P sing bokek iku T iku lho.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: