RSS Feed

Suddenly Bali (part 3)

Posted on

Ubud adalah tujuan selanjutnya yang harus dirambah secara detil kalau lain waktu gue ada kesempatan untuk datang lagi ke Bali. Semalam sempet maju mundur juga berangkat ke Ubud atau nggak. Tapi, akhirnya jam 9 pagi, kita berdua jadi juga berangkat ke naik shuttle bus Perama. Ih, murah gila… PP langsung bayar di tempat Rp 80.000. Maksud gue murah untuk ukuran Bali. Pas bisnya sampe, gue pun berpikir, hm, wajar sih kalau semurah itu. Bis yang dipake bikin gue inget sama kopaja P20 Lebak Bulus-Senen, tapi bis yang baru :P. Dan bis itu langsung berangkat setelah penuh dengan 4 orang lokal, sisanya bule, dan sebejibun tas backpack mereka.

Perjalanan sempet macet di jalan bypass yang menuju bandara. Bikin waktu kita di Ubud jadi berkurang satu jam. Which is sucks, mengingat jam 3 sore  udah kudu balik lagi ke Kuta, maka 2,5 jam roaming pusat Ubud pun gak cukup.

So, aniway, akhirnya kita cuma merambah pusat Ubud aja, yang banyak deretan butik internasional dan lokal. Kita cuma perlu jalan 15 menit dari kantor Perama dan sampai di Monkey Forest (kayaknya ini Sangeh deh). Banyak yang bisa dilihat cuma gak banyak yang bisa gue beli. Sebenarnya agak membosankan juga di Ubud kalau cuma jalan-jalan gitu doang. Pengennya nginep di salah satu hotel yang pemandangannya mengarah ke sawah. Kayaknya endah banget dunia.

Balik dari Ubud, gue langsung ketemuan sama si Poni, dan akhirnya kita bertiga jalan-jalan bareng. Malemnya gue nginep di Tune Hotel yang udah di booked sama si Poni, sementara my roomie tidur sendiri di hotel kita, which she already agreed on. Tune Hotel itu hotel punya Air Asia yang punya konsep persis dengan penerbangannya. Semakin awal lo booking, semakin murah lo dapet harga.

Tapi sebelum tidur, kita nyempetin clubbing dulu mampir ke Engine Room di Legian. Dan sungguh, gue menyesal memilih tempat itu. The music sucks, the crowds are teenager, and the music sucks. Oh, wait, I said that.

Cabs dari situ, kita misah. Roomie gue balik ke hotel, gue and Poni menuju Tune Hotel. Hotelnya jelas beda gaya dengan hotel yang gue tempati semalam. Tune Hotel sangat modern, sangat bersih, dan karena murah, maka pengunjung yang mau pake fasilitas bakal dikenakan charge di luar rate kamar. Fasilitas macam AC (yes, it’s not a default facility), hair dryer, dan… yah, itu sih yang paling utama. Quite recommended actually. Poni booking kamar untuk satu orang yang ternyata gedenya cuma… yah, istilah si Poni adalah, “lempar kolor tektok.” Emang kecil banget tapi nyaman.

Setelah mandi air anget di kamar mandi yang keren, gue pun langsung pules, meninggalkan si Poni yang masih sempet banget  unggah foto diving-nya dia. Rasanya gue baru tidur 2 jam ketika gue ngerasa suara si Poni mulai mengusik tidur lelap gue. “Lel, bangun dong. Ayo kita berangkat ke Kuta.” Gue ngeliat jam. 5.30. Dasar Poni setaan!

Tapi bener juga sih dia. Dari kemaren gue cuma niat mulu pengen liat Kuta pagi-pagi. Ini pagi terakhir gue di Bali, jadi gue pun maksain badan gue buat bangun. Kaki rasanya mati rasa karena seharian kemaren jalan naik turun di Ubud. Pake cuci muka, sikat gigi, tapi gak pake mandi kita karena kita toh baru mandi jam 1.30 dini hari, dan gak akan ada bule cakep yang iseng nyium ketek kita, dan berangkatlah kita berdua. It was breezy and soothing. Gak nyesel lah gue bangun sepagi itu. Setelah satu jam dirasa cukup “cuci kaki” di pantai, kita pun menuju deli terdekat di situ. Letaknya bareng sama Minimart, di sebelah McDonalds. Sandwich yang niatnya cuma mau makan setangkup aja masing-masing, akhirnya setelah makan setangkup itu, kita malah pesen setangkup lagi. Couldn’t help it. It was so darn delicious.

Me and Poni

Pisah dari Poni, karena dia harus balik lagi ke Jakarta, gue langsung roaming Legian untuk cari spa termurah dengan servis paling maknyus. Gak mungkin gak ada. Dari kemaren gue mondar-mandir di situ, setiap lima meter gue disodorin brosur harga spa. Bener kan? Gue lupa nama spa-nya apa, yang jelas gue berhasil nyobain 3 macam pijat dengan harga Rp 120.000 saja. 2 jam!! Hot stone massage? Hate it. Thai massage? Loved it! Pulang dari spa, setelah setengah jam tidur ayam dan satu setengah jam tidur lelap di tempat spa, dan dengan badan lengket karena massage cream, gue pun menuju hotel untuk ambil barang-barang gue. Si roomie gada, karena kemaren dia sempet bilang pengen berenang di Waterboom. Akhirnya gue pun beberes, packing, dan cabs tanpa menunggu dia, karena semalem udah sempet pamitan. Gue berencana untuk nunggu travel di Kuta aja. Sekalian liat upacara Melasti, walaupun gada yang istimewa si upacara itu.

Melasti ceremony

Wrap up, Bali was great. Poni and other crazy girl is planning to go there on October 2010. Let see if I can join them. Because, hey, I haven’t crossed to Gili Trawangan, I haven’t seen Garuda Wisnu, I haven’t seen Lovina. Damn it, I should join them!

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: