RSS Feed

Pilihan Karir

Menjadi seorang guru tidak pernah ada di pilihan karir gue. Err.. bahkan sampai sekarang gue sama sekali tidak punya rencana untuk menjadikannya sebagai karir. Saat ini, gue cuma sekedar melakukan saja. Karir adalah sesuatu yang sudah direncanakan semenjak lo mulai kuliah, bahkan mungkin sejak lo kelas XII. Atau maksimal setahun setelah lo kelar kuliah. Walaupun memang banyak juga orang yang udah banting tulang bangun karir sepanjang hayat , kemudian belok begitu saja ke sesuatu yang paling diminatinya, dan kemudian menyesal kenapa tidak memulai dari dulu, tapi bahagia tiada tara karena akhirnya bisa mengambil keputusan besar nan drastis dan sangat revolusioner.

Salah satu temen guru gue bilang, mengajar adalah pilihannya semenjak dia mulai kuliah, katanya waktu kita lagi afternoon tea bareng di Steak and Shake (afternoon tea kok steak?). Dia emang sarjana kependidikan. Gue berusaha mengorek lebih jauh, masak sih, begitu saja mudah memutuskan sesuatu?

Lebih jauh lagi dia bilang tujuan selanjutnya adalah jadi guru PNS. Jujur, dengan menyesal gue mengatakan, gue menghakimi dia ketika mengatakan itu, hanya karena otak gue udah dikotori berbagai macam cerita yang ga beres tentang PNS. Sekali lagi gue berusaha menggali pernyataan dia lebih dalam. Benarkah cuma begitu saja target hidupmu?

Sebagian dari diri gue seperti sedikit meremehkan, dan sebagian lagi adalah kekaguman gue ke temen gue itu. Di umur yang beda 3  tahun ke bawah sama gue, dia sudah bisa menentukan keinginannya, karirnya, hidupnya. Sedangkan gue? Dari awal kuliah aja udah salah jurusan, karena sebesar apa pun minat gue ke desain, masih kalah sama minat gue untuk Bahasa ato Sastra Inggris. Bukannya gue menyesal masuk DKV, karena di situ gue juga belajar seni dan budaya, dan betapa semua itu sekarang sangat memengaruhi hidup gue. Tapi, di bidang karir dan profesi? It’s a big NO. Alhasil bisa dilihat ke mana arah gue setelah lulus. Kerja sesuai pendidikan, kerja sesuai kebutuhan, kerja untuk membayar makan dan kost, kerja untuk sesuatu yang dikira sesuai dengan kemampuan diri, semuanya lengkap di sini.

In the end, gue tidak menyesal udah menempuh semua itu. Gue anggep itu sebagai proses yang emang harus jalani. Gue pernah merasakan gak enaknya kerja tanpa minat, kerja di bawah tekanan ples tanpa minat, kerja yang dikira sesuai minat dan kemampuan tapi ternyata tidak, semua udah gue lewatin. Menarik juga kalo gue harus melihat lagi ke belakang, apa aja yang udah gue lewatin. Proses mengenal diri itulah yang harus terus gue ingat, sebagai bentuk pembelajaran hidup, bahwa gue bisa memilih, gue berhak memilih untuk apa yang harus menjadi jalan hidup gue. Kedengeran egois? Gak lah. Karena gue tahu, sebelum gue memutuskan sesuatu, gue selalu mengompromikan dengan orang-orang yang berhubungan langsung dengan keputusan gue. Lebih tepatnya, berkompromi dengan mereka untuk bisa menerima keputusan gue.

Dan di sinilah gue sekarang; di depan kelas, nungguin murid-murid gue kelar ngerjain ulangan. Dan sungguh, gue tidak melihat apa yang gue lakukan ini sebagai karir, apa lagi kalo melihat definisi karir sebagai sesuatu yang berjenjang, naik ke atas. Ini hanya sekedar status. Sebutan. Kerja apa? Guru. Oh, udah PNS? Nyengir aje deh gue.

Ya, gue masih berproses.

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

4 responses »

  1. Haloo Ibu guru!! Congrats untuk pilihan karirnya ya.. hehehe..it’s a nice sweet blog you have here…mampir ahh.. :))

    Reply
  2. Jadi Ibu merasa stuck di profesi/sebutan/karir guru ini?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: