RSS Feed

Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 1)

Bo’ong kalau ada wanita yang bilang gak takut melahirkan, kecuali seumur hidupnya dia memang selalu mendengar cerita-cerita yang indah mengenai persalinan. Ya sebenarnya gak bisa menyalahkan juga, karena memang sekeliling kita dipenuhi sama cerita-cerita persalinan yang penuh penderitaan. Belum lagi adegan di tivi yang juga gak ada bedanya. Penuh teriakan, ketegangan, horor deh pokoknya.

Tapi, tahukah Ibu, bahwa ternyata rasa takut pada persalinan itu ada sejarahnya? Semuanya tidak serta merta terjadi. Tulisan ini saya baca di buku “HypnoBirthing” karya Marie Mongan. Cuma bisa geleng-geleng kepala saat membacanya. Yang ada di kepala cuma; ternyata… oh, ternyata… Buat yang gak suka sejarah, saya sarankan berhenti saja di sini, karena tulisannya agak panjang. Tapi untuk wanita yang ingin tahu, terutama wanita hamil, saya sarankan baca sampe abis ya. Pengetahuan macam gini gak mungkin saya simpan sendiri. Sejarah ini menurut saya cukup kelam untuk para kaum wanita, bahkan saat membaca pun saya ikut merasa takut.

Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa melahirkan itu identik dengan rasa sakit. Istilah di atas rasa sakit ya derita. Duh, dosa apa wanita sampai harus menderita untuk melahirkan malaikat kecil tak berdosa? Nah, pertanyaan itu saja sudah memicu banyak kontroversi. Yang sudah menjadi takdir dan kutukan wanita lah, yang karena dosa Hawa turun temurun lah, macem-macem deh. Padahal waktu saya cari di ayat Al-Quran, tak ada ketetapan dari Allah bahwa persalinan/melahirkan itu dipenuhi dengan derita. Yang ada justru proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu yang ajaib.

Pada Alkitab, kata-kata Yahudi etzev, diterjemahkan untuk memberikan makna “kerja keras, usaha” dalam hampir kebanyakan Alkitab. Tetapi ketika merujuk pada peristiwa persalinan, kata etzev diterjemahkan menjadi “nyeri, penderitaan, atau kesakitan”. Menurut Helen Wessel, penulis The Joy of Natural Childbirth, sebenarnya tidak ada kutukan yang serta merta dijatuhkan pada Hawa. Dalam kitab kejadian, Tuhan mneggunakan kata-kata yang sama saat bicara pada Adam, seperti juga pada Hawa. Tapi para penerjemah yang mendapat pengaruh oleh berbagai kondisi menakutkan seputar persalinan memilih untuk menerjemahkan ucapan yang disampaikan pada Hawa secara berbeda (Mongan, 1992: 42)

Apa yang terjadi di jaman dulu?

Kita mundur sejauh 3000 SM, di mana saat wanita melahirkan secara alami dengan hanya sedikit rasa tak nyaman, kecuali jika terjadi komplikasi. Sebelum kelahiran Nabi Isa, banyak catatan sejarah menulis bahwa persalnan sering kali selesai dalam waktu kurang dari tiga jam. Tidak ada catatan bahwa “kutukan” berperan dalam kepercayaan mereka atau persalinan mereka.

Dulu, kehidupan manusia berpusat pada alam dan ibu (semacam ibu pertiwi). Mereka memuja Ibu Alam, Ibu Bumi, dan Ibu Pencipta. Wanita dianggap sebagai pemberi kehidupan. Sebagai manusia yang bisa melahirkan, wanita dianggap terhubung dengan Tuhan. Patung dewi pemujaan jaman itu pun umunya berbentuk wanita berpayudara penuh dengan perut buncit seperti akan melahirkan. Orang-orang jaman dulu memang menganggap persalinan sebagai manifestasi alam tertinggi. Jika seorang wanita melahirkan, orang-orang akan mengelilinginya di kuil sebagai “penyambutan/perayaan kehidupan yang baru.” Kala itu, melahirkan merupakan upacara keagamaan, bukan penderitaan seperti yang terjadi bertahun-tahun kemudian.

Saat Hipokrates dan Aristoteles yang merupakan pelopor mahzab kedokteran Yunani, pergeseran nilai tentang persalinan normal pun tak disebutkan. Masa iya rasa sakit saat melahirkan lolos dari pengamatan dua pria jenius ini? Kan gak mungkin.  Mereka percaya bahwa kebutuhan dan perasaan wanita yang sedang melahirkan perlu didukung oleh orang-orang yang bersedia membantu. Bahkan Hipokrates-lah yang pertama kali menyusun instruksi formal bagi wanita yang berkecimpung di dunia kebidanan, sedangkan Aristoteles menulis hubungan antara tubuh dan jiwa serta menekankan pentingnya relaksasi yang mendalam selama persalinan. Jika ada komplikasi, wanita dibawa ke keadaan relaksasi sehingga komplikasi tersebut dapat diatasi dan diobati.

Soranos, pria terpelajar lain, merangkum tulisan Aristoteles dan Hipokrates sehingga berbentuk buku. Di buku itu, Soranos menekankan pentingnya kita mendengarkan kebutuhan dan perasaan ibu yang sedang melahirkan dan menganjurkan kekuatan pikiran untuk mencapai relaksasi sehingga persalinan dapat berlangsung lancar. Sama seperti pendahulunya, Soranus tidak menyebutkan soal rasa nyeri, kecuali saat menulis tentang persalinan yang abnormal atau sulit. Saat bersalin, wanita dilayani dengan lembut, penuh kasih dan kegembiraan. Semua ini bertahan sampai ribuan tahun.

Pada akhir abad 2 SM, semua ini berubah. Gelombang kebencian terhadap wanita dan terutama pada bidan, tabib dan wanita bijaksana yang selama ini menjadi instrumen vital dalam proses persalinan menyebar luas. Kebencian ini–yang sayangnya dipimpin oleh beberapa orang Kristen yang salah arah–berkembang menjadi bencana bagi kaum wanita di mana para dukun wanita, yang dulu memiliki posisi tinggi dalam masyarakat, dibantai karena keterampilan mereka dalam merawat dan menyembuhkan.

Anggapan bahwa segala hal penting yang berasal dari alam dipandang sebagai kejahatan yang serius, dan semua tulisan mengenai penyembuhan alami disita dan dikubur. Dan yang sangat disayangkan, buku Soranus pun mengalami nasib yang sama sehingga konsep persalinan alami pun terkubur. Pada masa inilah Santo Clement dari Aleksandria menulis: “Setiap wanita seharusnya dipenuhi rasa malu pada pemikiran bahwa mereka adalah wanita”.

Hukum kemudian mengharuskan wanita dipisahkan selama kehamilan dan diisolasi selama persalinan. Otoritas medis dan penyembuhan saat itu dipegang oleh pendeta dan rahib sehingga dokter perlu meminta ijin untuk membantu “mereka yang layak menderita”. Karena wanita dianggap sebagai perayu dan kehamilan adalah hasil dari dosa jasmani, maka wanita melahirkan tidak dianggap sebagai orang yang layak ditolong. Orang-orang medis dilarang untuk membantu persalinan bahkan saat persalinan itu bermasalah. Profesi bidan dihilangkan sehingga wanita yang melahirkan pun terisolasi, tanpa bantuan, dan mengalami ketakutan. Dengan ditulis melalui beberapa fatwa, persalinan–yang dulu merupakan sebuah perayaan–berubah dejatnya menjadi pengalaman yang meyakitkan dan sangat ditakuti sehingga harus dijalani dalam kesendirian.

Bersambung ke Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 2)

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: