RSS Feed

Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 2)

Akhirnya, pada awal abad ke-16, tulisan-tulisan Soranos ditemukan kembali. Kalangan medis, yang terdorong oleh hati nurani mereka untuk menentang ajaran yang sudah ada, mulai tertarik. Terciptalah buku pertama tentang kebidanan (obstetri) Pada saat itu, bidan kembali berperan, tapi derajatnya menurun drastis, hanya dianggap sebagai pekerjaan yang kurang berharga. Bahkan pendeta asal Jerman, Martin Luther, pun berkata “biarkan para wanita itu meninggal saat melahirkan, memang itu tugas mereka.” Jerman merupakan tempat di mana pembunuhan terhadap dukun paling banyak terjadi.

Seiring dengan munculnya jaman Renaissance, keadaan wanita bersalin menjadi lebih baik, walaupun penggunaan kloroform yang digunakan secara luas untuk semua tindakan medis tidak berdampak apa-apa untuk mengurangi penderitaan mereka. Bahkan seorang pendeta di Amerika berkata bahwa dengan melakukan hal itu, kesukaan Tuhan akan “tangisan minta tolong yang mendalam dan jujur dari mereka” akan direnggut. Sekali lagi, kita melihat kepercayaan salah kaprah dari manusia, bukan Tuhan.

Pada akhir tahun 1800-an, Ratu Victoria bersikeras untuk menggunakan kloroform saat melahirkan dan terbukalah pintu penggunaan anestesi untuk persalinan. Tapi hal ini justru menimbulkan bahaya lain dalam persalinan; melahirkan mulai berpindah ruangan, dari rumah ke rumah sakit. Bukan karena melahirkan adalah suatu hal yang sangat berbahaya kalau dilakukan di rumah, tapi karena penggunaan anestesi terlalu berbahaya jika diberikan di rumah. Jadi wanita yang ingin mendapatkan anestesi saat melahirkan harus pergi ke rumah sakit. Suami dan keluarga tak lagi menjadi bagian dalam proses melahirkan. Dimulailah era baru dan pendekatan baru persalinan.

Jaman dulu, bangsal rumah sakit untuk ibu melahirkan memiliki keadaan yang sangat menyedihkan. Angka kematian bayi dan ibu terbilang tinggi, bukan akibat komplikasi atau risiko persalinan, tapi karena bayi dan ibu terpapar kuman-kuman penyakit dari pasien lain sehingga menimbulkan infeksi. Angka kematian yang tinggi tidak menjadi masalah karena dianggap sebagai takdir dan mengabaikan fakta bahwa angka kemarian wanita yang melahirkan di rumah jauh lebih rendah, sehingga ketakutan akan mati akibat melahirkan menjadi momok yang menakutkan bagi ibu melahirkan. Sulit dibayangkan wanita jaman itu menyambut hari persalinan tanpa dihantui perasaan ketakutan. Jelas sudah bahwa melahirkan tak lagi dianggap sebagai suatu peristiwa perayaan. Dan di mata para wanita itu sendiri, rasa sakit melahirkan adalah hukuman yang harus dijalani wanita sepanjang masa.

Kemudian muncullah Florence Nightingale, perawat wanita yang mengubah keadaan bangsal ibu-ibu bersalin yang menyedihkan menjadi jauh lebih baik. ia menerapkan standar sanitasi dan kebersihan yang sama dengan bangsal-bangsal lain di rumah sakit.

Tapi semua itu sudah terlambat. Pendulum pemberian anestesi bergerak lebih cepat, dari yang awalnya tak ada pengawasan menjadi pengawasan berlebih. Pemberian obat-obatan secara dini dan anestesi menjadi standar untuk semua persalinan–needed or not, karena sudah dipercaya bahwa melahirkan pasti selalu menimbulkan rasa nyeri. Persalnan dengan obat bius, kepala bayi ditarik dengan alat, sudah menjadi hal rutin. Hilangnya rasa sakit bagi wanita yang bersalin dan manfaat yang didapatkan dari para petugas kesehatan sudah menjadi aturan main saat itu, dan sepertinya, sampai sekarang.

Sekarang, walaupun sudah banyak sumber yang mengatakan sebaliknya, tetap banyak orang yang berkecimpung dalam pelayanan ibu hamil, dan bahkan wanita itu sendiri yang terus menerima mitos bahwa nyeri adalah bagian dari yang tak terpisahkan dari proses bersalin. Bisa dikatakan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan seorang ibu saat melahirkan adalah bergantung pada petugas kesehatan, hanya menerima semua tindakan dan tidak belajar cara mencegah terjadinya masalah sebelum itu terjadi.

Pemberian induksi hampir secara rutin diberikan tanpa ada indikasi yang kuat. Obat-obatan artifisial itu menyebabkan rasa sakit yang mendalam selama persalinan sehingga membutuhkan obat lain untuk mengatasi rasa sakit itu, sampai akhirnya dilakukan pembedahan (Cascade Intervention). Akibatnya, banyak keluarga yang menceritakan tentang rasa sakit yang berlangsung lama, pemberian bermacam-macam obat, rahim yang tak mau membuka, pembedahan dan kebanyakan tentang rasa tak berdaya. Semuanya menghasilkan trauma tak berguna bagi ibu dan bayinya.

Mengapa wanita mengalami hal-hal ini? Mengapa tubuh wanita yang diciptakan dengan sempurna untuk melahirkan, “menolak” bahkan sebelum persalinan dimulai? Mengapa banyak sekali wanita membutuhkan operasi untuk mengeluarkan bayi mereka–suatu prosedur yang 40 tahun lalu sedemikian jarang terjadi sehingga dipandang sebagai kejutan?

Jawabannya dapat ditemukan dalam dua kata: rasa takut.

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

One response »

  1. Pingback: Sejarah Rasa Takut Persalinan (Bag. 1) « Dunia Lely

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: