RSS Feed

Mengapa Kami diberi Kembar?

Sebenarnya pertanyaan itu baru terbersit akhir-akhir ini, sebentuk penyadaran dari perjalanan kehamilan yang sekarang masuk minggu ke 32. Kalau dilihiat dari bentuk perut, perkembangan si kembar makin signifikan. Dari kehamilan 5 bulan yang orang selalu bilang, “kok kecil, ya?” setelah tahu saya sedang hamil kembar (minta dijejeg), sampe pertanyaannya berubah jadi, “udah 9 bulan ya, mbak?” padahal baru 7 bulan (dan rasanya emang kayak lagi hamil 9 bulan)

Sering mikir, kenapa kami yang diberi kembar? Kedua kakak saya semuanya hamil singleton. Dan gen kembar pun garisnya jauh sekali dari saya, yaitu adik dari ibunya bapak saya. Nah lho, nyebrang pula. Saya lupa, pernah atau tidak waktu kecil atau jaman pubertas berangan-angan punya anak kembar. Mungkin pernah. Karena siapa sih yang gak tertarik liat anak kembar jalan beriringan? Kesannya kan lucu gitu.

Tapi sungguh, gak pernah nyangka akan dikasih kembar. Saudara jauh memang ada yang punya anak kembar, tapi itu karena bayi tabung dan kemungkinan kembar di program itu memang cukup tinggi, jadi gak pernah terbersit akan diberi anak kembar. Tapi setelah 7 bulan menjalani, saya mulai bisa memahami mengapa kami diberi kembar (di luar kenyataan bahwa saya mungkin saat pembuahan lagi yang subur abis karena ovumnya 2)

Saya gak ambil contoh jauh-jauh, kakak pertama saya aja lah. Kenapa janin yang dikandungnya bukan kembar? Mungkin karena suaminya (sekarang mantan) waktu itu tidak bisa mendampinginya setiap saat sampai-sampai di bulan ke 6, kakak saya tinggal di rumah ibu di Malang, sementara suami kerja di Jakarta. Padahal yang namanya ibu hamil itu selalu butuh dukungan lingkungan, apalagi hamil kembar. Atau mungkin juga karena kakak saya waktu hamil masih tergolong muda, jadi tingkat kebijaksanaannya masih belum cukup kalau diberi amanah untuk punya anak kembar. Kemudian kakak ke-2 (kakak ipar lebih tepatnya). Walaupun mereka tinggal di satu atap di rumah saya, tapi kakak saya yang sedang ambil spesialisasi bedah bisa dikatakan sangat sibuk. Dan hubungan kakak ipar yang tinggal serumah dengan ibu saya sebagai mertua juga tidak bisa dikatakan baik. Janin butuh lingkungan yang sangat mendukung untuk bisa membuat ibu hamil terus merasa senang dan bahagia, dan sepertinya itu belum bisa didapatkan. Dua kali hamil, dua kali pula singleton.

And then me. Us. Pertama, mungkin karena pernikahan kami benar-benar direstui kedua belah keluarga. Tidak ada embel-embel selesein ini itu dulu, kenal dulu lebih jauh dan sebagainya. Kedua, gak bermaksud menye-menye, but we really love each other, we do. Ketiga, hobi saya mencari informasi sampai sejauh-jauhnya mengenai kehamilan, persalinan, dan parenting adalah bekal yang menurut saya penting banget. Dengan sadar diri bahwa saya orang yang holistik, semakin saya percaya bahwa kelahiran normal minim intervensi adalah yang terbaik untuk si kembar.

Hampir setiap hari semenjak janin umur 3 bulanan sudah rajin saya ajak komunikasi. Semua pengetahuan yang bisa saya cari di internet tentang persalinan saya lahap. Thank God for the internet, keluhan-keluhan kecil macem capek ini itu, berubah ini itu bikin hati lebih tenang dan gak gampang panik. Well, itu dan hypnobirthing sih. Sampai meguru ke Klaten untuk belajar hypnobirthing dan persalinan pun kami jabanin. Keempat, semestinya kondisi umur yang udah tua ini juga jadi faktor :”)

Satu lagi, si ayah yang seorang indigo benar-benar amat sangat membantu. Selain sabar dan ngadem-ngademin saya yang selama 2 bulanan perasaannya sensitif banget, dia juga ngerti gimana dan apa yang lagi dipengenin sama si kembar. Tapi saya juga berusaha untuk gak mau sering-sering nanya ke dia tentang si kembar, karena nanti yang ada malah kepekaan saya sebagai seorang ibu jadi berkurang.

Intinya, saya merasa semua kondisi di sekitar saya amat sangat mendukung. I’m ready for having a twins :)

Advertisements

About Lely Citra

Procrastinator, but strangely, always on time.

4 responses »

  1. Halooo mba,ini renny yg hamil triplet dan sempet kelimpungan cari HMF..pas buka profil di twitter gtw knp jd penasaran buka wordpress mu.seruuu ya kembar?sama banget kyk aku.speechless waktu tau kembar.3 lagi dan bukan hasil bayi tabung!!awalnya krn ada mslh telor yg kecil2 dan ga kunjung mateng tp dg sentuhan obat hormon malah jadinya banyak yg mateng + faktor suami yg emang punya garis keturunan kembar (2 aja sih). Alhamdulillah 8 bulan perkawinan udah dikasih Allah hamil. Kontrol pertama hepi aja ada 1 kantong kehamilan. Kontrol ke 2 ada 2 kantong,jauuuuhh lebih hepi. Eh kontrol ke 3 ada 3 kantong.waktu itu puyeng,speechless,sedih juga campur aduk smpe kluarga bnr2 nguatin kalo aku dan suami bisa. Dan akhirnya,enjoyyy bgt meskipun hamil 7 bulan udah kayak hamil 10 bulan :)) naahh untuk urusan cara persalinan nih,dari awal udah dijadwalin SC.jd ga pernah tuh ngebayangin sedikitpun ttg persalinan normal. And guess what? Ternyata Allah berkehendak lain. Dengan badan sekecil aku (tinggi 155 cm, berat 3 anak smpe 30 mgg 64 kg) bisa ngelahirin 3 bayi secara persalinan normal dengan posisi anak ada yg melintang, sungsang, dan normal. Hihihihi…unbelieveable kan?sekarang begitu triplet udah lahir, jadi kangen hamil lagi :D

    Reply
    • Setiap kehamilan punya arti tersendiri untuk ibu dan ayah. Hebat yaa.. bisa triplet dan lahir normal :) Alhamdulillah gak ada komplikasi apa pun. Semoga triplet bisa segera keluar dari NICU yaa… *peluk cium*

      Reply
  2. saya sangat menantikan bagaimana nanti romantisme itu akan tercipta saat persalinan
    Sam.., barakalloh semoga dilancarkan…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: