RSS Feed

Category Archives: Personal

7 Months Summary

Lama banget sejak posting terakhir Januari lalu. Rentang waktu 7 bulan itu, ternyata bisa banget bikin orang yang hobi banget bikin kue sampe sama sekali ogah megang mixer. Bosen? Yaa… bisa jadi salah satu alasan. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai faktor hormonal.

Setelah sekian tahun sendiri dan mencari, siapa yang nyangka kalo ternyata si calon pendamping hidup gak pernah jauh-jauh dari sisi saya semenjak pindah ke Malang? Dari dulu saya selalu sadar bahwa saya bukan orang yang gampang jatuh hati sama seseorang. Kalaupun suka, si cowok pasti seseorang yang emang udah dekat sebelum ngerasain perasaan yang lebih mendalam. Dan bener aja, si calon gak jauh-jauh ternyata temen SMA yang saat SMA gak saya kenal, tapi dia tahu saya, dan yang mengajak saya untuk jadi guru di SMA 5, Malang. Cowok yang gak terhitung lagi berapa kali saya samperin di kantornya cuma untuk sekadar nyapa, ato bahkan untuk ngadem di kantor kurikulum yang ber-AC. Cowok yang sering banget ngajakin makan siang kalau lagi ada jam kosong. Cowok yang waktu awal sempat saya sangka naksir saya, tapi ternyata gak (ge-er aja sih lo!) karena sering banget minta temenin ke sana ke mari. Cowok yang pas mau jadian sama guru lain bener-bener dapet dukungan saya. Ya, dia. Isdah Ahmad. Guru slash wedding photographer.

Cuma sebulan sejak Juni 2011 akhirnya saya berani mengambil keputusan untuk menikah, sementara dia sudah mantap untuk niat menikah sejak awal kami memulai hubungan. Keputusan itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Deg-degan khawatir juga nggak, malah excited. Kayak yang semua akan berjalan dengan semestinya. Atur ini, atur itu, stress dikit, stress banyak, akhirnya 17 Februari 2012 akad nikah pun selesai.

Niat hati gak pengen langsung hamil, pengen main-main dulu, segak-gaknya hanimun laah. Gak jauh-jauh kok, ke Bali aja. Tapi Allah berkata lain, apalagi disertai doa suami yang emang langsung pengen punya anak, disertai masa yang (terlalu) subur pula, sebulan berikutnya periksa ke dokter ternyata kantong rahim udah kebentuk.

Pagi-pagi, dua minggu sebelum ke dokter, saya merasakan dorongan mendesak untuk test pack, langsung setelah bangun tidur. Sampe sekarang juga gak ngerti kenapa. Lima menit setelah dua garis di test-pack muncul dan disambut sama suami di depan pintu kamar, air mata langung jatuh. Perasaan campur aduk, dan rasa bahagia cuma ada sekitar 20% dari sekian banyak emosi yang terasa. Kebanyakan malah rasa takut, gak yakin, pokoknya negatif semua. Pelukan suami malah memperparah tangisan saya. Dua jam penuh air mata gak berhenti, sampai akhirnya tiba di titik; ok, I can accept this.

Sebenarnya butuh waktu sebulanan sampe diri benar-benar ikhlas dan bisa bahagia menyambut calon anak. Sebulan itu saya menghabiskan waktu banyak sekali baca-baca informasi tentang kehamilan dan persalinan. Dari awal sebelum hamil, otak ini udah terlalu banyak diracuni sama cerita-cerita tentang kelahiran, sampai-sampai saya udah sampai di titik: Caesar aja ah… Gampang. Semuanya berubah saat seorang teman ngasih tahu tentang Gentle Birth. Sesuatu yang mengubah cara pandang saya terhadap kelahiran, apalagi buat saya yang selalu tertarik dengan ilmu holistik.

Kali ke dua kontrol ke dokter, ternyata USG memperlihatkan adanya dua kepala janin. Heh? Dua?? Astaga… Allah baik banget ke saya? Tapi toh tetep aja saya gak bisa langsung bersyukur saat itu juga. Lha, gimana? Sebulan itu diri cuma mempersiapkan kehamilan singleton, bukan kembar. Manalah nyangka kalau bakal ada dua janin di perut saya? Tiga keponakan saya juga singleton semua, gak ada yang kembar. Kenapa ini kembar harus nemplok di saya? Sempet kepikir gitu. Kurang ajar banget yah saya? Tapi mostly, setelah keluar dari dokter, otak saya blank.

Butuh waktu sebulan lagi untuk akhirnya bisa mensyukuri anugerah itu. Lama ya? Yaa, mana ada sih ikhlas itu instan?
Dan ilmu Gentle Birth benar-benar bisa menenangkan saya, bahwa kembar pun bisa lahiran normal dan alami kok. Gabung ke forum Gentle Birth juga sangat membantu. Otak pun serta merta mem-blocking cerita-cerita buruk tentang persalinan dan kelahiran.

Awalnya sempat skeptis sama suami yang kayaknya nggak acuh sama pandangan saya tentang Gentle Birth. Tetep mendukung, cuma gak excited. Saya gak protes banyak, cuma kadang-kadang emang suka kasih tautan berita ke dia. Sampe mau latihan ke Klaten untuk hypnobirthing pun dia tetap mendukung kok. Dan ternyata dukungannya semakin keliatan saat kami pulang dari Klaten. Sampe-sampe saya keder sendiri karena dia lebih bersemangat daripada saya. Apa lagi yang bisa saya minta dari seorang suami? :)

Masih tersisa kurang lebih 2 bulan lagi menjelang kelahiran. Si kembar makin aktif di dalam perut. Gak pernah terbersit kata-kata gak sabar ketemu mereka. Mereka akan lahir di waktu yang tepat, dan saya akan siap menyambut mereka :)

Advertisements

Looking back 2011

One day to go before 1st of January 2012, and I think I want to reminiscing my 2011 year. On one hand, I feel like this year is too freaking fast. I haven’t done anything significant! But on the other hand, I know that’s not true. People around me do stuff, and I just stand there do nothing. Besides, I might haven’t done anything significant, but I DO experience something more than significant.

First, after a long while, I finally able to rest my heart to someone I can trust entirely. Entirely. Which is since June ’11. My best friend, my brother, my soon-to-be husband and imam. Who would’ve thought that the song ‘Lucky’ from Jason Mraz will ever happen to me? I always told my self that I know I only can end up with a guy whose a friend before finally attach himself to me–remembering how cynical I am to guy whom I know has a special interest towards me–who knows my sarcastic language, my sometimes-cursing, my ignoring ability, my insensitive behavior, and still can see beyond that, and know that I’m special. Because, hey, that’s just my flaws. It really doesn’t mean I’m JUST that. And if he reads this, I know he can add much more flaws than I just mention. But I still love you, tho.

That’s one, relationship-wise.

Second, career-wise, I drop my teaching job. Right at the end of 1st semester. Finally. Remembering I ever post this. Not nice, I know. Once again, I quit what-so-called career. I thought it’s going to be my last resort. But apparently it’s not. I don’t know what’s wrong with me. According to my last post on my former-blog, I stated that teaching is a fun job. It was. I men it is! But with juggling with my translating job, it made me quite stressed up. I’m not my fiancee whose able to juggling between teaching in senior high and university, but also as wedding photographer! Passion. That’s it. I need passion. I mean, I need long lasting passion. That teaching job? The fire was slowly dimmed along the years. No fuel to re-light it again. I don’t even know what’s the fuel. Besides, I feel like I’m a fraud. I teach graphic design, but my design knowledge is stagnant. It’s not moving forward because I don’t practice it elsewhere. If anything, it’s moving backward *face palm* How can I teach something good if I don’t get further knowledge about it? Err… ever try Google? Yes, I tried Google thank you very much! Not much of a help since I don’t even know what I’m looking for. How much more dumb I can be?

I didn’t say good bye to my students. I didn’t know how to do it. I’m suck at it. And just walk-by without saying a word to them not making it better. So kids, if you’re reading this, keep doing the great job on design. I’m proud of you all. Had a wonderful experience teaching you all. Hope you’ll get a better and cooler teacher than me :)

Third, dream-wise. Salt & Cocoa. I still not yet have the guts to start this. I don’t even know how to start it. But I know that I do translating as a carrier to this. Not a single night I go to sleep without thinking anything related to Salt & Cocoa. Either the signature cake, the concept, will it be only online cake shop, will it ever be offline store, altogether with cafe and pasta specialty? Anything. This all is like a lullaby to me. But also kinda make me panick. I’m running out of time. If I don’t start immediately, the competitors will be increasing in no time. And after panicking, I fall asleep. It happens almost every night. I’m not saying that I’m only a dreamer, but my lack of courage really got in the way. What if the customer ask something I can’t make? What if I can’t fulfill the customer’s request? What if my price is too expensivo? What if… what if…? I hate me.

What else? Not much than that. Those three things above is main event of 2011.

Next year, this will happen:

  • Get married
  • Establish Salt & Cocoa

Amien…

Happy New Year everyone! Thank’s for visiting my blog :)

New Crush: Alex Wong

Posted on

It feels inappropriate to have a celeb-crush on my age. But, really, I can’t help it! This all start when I watched SYTYCD 7, and this magnificent dancer appear.

Alex Wong

And this hip-hop routine is definitely going to be unforgettable routine in all season of SYTYCD. Thumbs up for Nappy-Tabs!

This dancer also tweeting. And when I got mentioned when @auntieannes pretzel collaborate with him on #NationalPretzelDay, I was so ecstatic that I captured it, haha! *pathetic*

(click to enlarge)

Why I Hate (most) Female (motorcycle) Driver

Posted on

WARNING: This list is PURE personal opinion based on experience. So, please, no offense, ladies :)

(Not necessarily in order)

  1. When turning left in intersection, they don’t look to their right.
  2. When going straight in intersection, they don’t look their left and right.
  3. They think turn signal is merely decoration since they rarely using it.
  4. They cut through a car/motorcycle who already give the turn signal without any thoughts of getting hit.
  5. They never think they make any mistake.
  6. They think they’re always right.
  7. They speed up when they know they just made some mistakes (well, in this matter, male driver also does this)
  8. Most of the times they don’t know they make mistake.
  9. The above number will be getting worse if the driver is some middle-aged lady who doesn’t know the driving ethics, just know how to drive.

Oh, mind you, I know I’m also a female, but since I hate those things I mentioned above, I don’t do all that.

“Insya Allah”? Gimana kalau “Insya Ana” aja?

Posted on

Salah gak sih, kalo gue kurang percaya orang yang berkata “insya allah”? Bukan tanpa alasan gue akhirnya memutuskan untuk merasa pesimis dengan ucapan ini. Jelas bukan karena artinya ya (naudzubillah… *ketok meja 3 kali*), tapi karena penggunaan semena-mena yang diucapkan sama manusianya.

Semena-mena adalah ketika gue menginginkan kehadiran seseorang di suatu tempat dan dia jawab “insya allah,” dan gue bisa melihat keengganan di mukanya. Semena-mena adalah ketika menagih janji ketidahadiran seseorang dan dengan santainya bilang “kan gue udah bilang Insya Allah,” seakan-akan dengan mengucapkan insya Allah, terhapus sudah dosa ketidakhadirannya dan melalaikan tanggung jawab.

Artinya sendiri udah jelas, “Jika Allah mengijinkan,” Gue yakin, Allah selalu mengijinkan perbuatan baik apa pun umatnya. Tapi kalo abis ngomong “Insya allah” kemudian gak jadi dateng karena ketiduran, hohoho… tidak bisaa. Berasa banget kalo omongan itu adalah kunci kabur dari tanggung jawab. Mendingan jawab aja langsung “Nggak ah, gue males.” Selesai. Urusan digamparin karena lepas tanggung jawab itu nanti, yang penting udah teges sama diri sendiri. Bukan yang ogah dateng tapi gak mau terlihat buruk dengan langsung menolak akhirnya ngeles dengan “insya allah”. Puh.

Sekian kali gue dapet omongan ini dari orang-orang yang mangkir dan dari orang-orang yang benar-benar menepati, jadi bisa bikin gue menilik mana yang ucapannya bener dari hati dan yang nggak. Walaupun prosentase orang-orang yang palsu jadi agak mengacaukan pandangan gue.

Menurut gue sih biarlah Allah sendiri yang tahu kalo kita melakukan niat itu dengan sungguh-sungguh. Jadi, kalau emang mau dateng tapi melihat ada halangan di depan, ‘sok, bilang “Insya Allah,” tapi bener-bener diniatin. Bukan “Insya Allah” yang asal ucap. Kadang-kadang gue suka mo nyeplos ngomong “Insya Allah, ato Insya ana? Kok lo kayaknya ogah dateng gitu?” Untungnya masih bisa gue empet.

Tentunya gak semua orang sependapat sama gue. But some does, gue baca di beberapa blog kalo ternyata yang punya pengalaman kayak gini gak cuma gue doang. Jadi, cuma mau bilang, hati-hati dalam berucap dan berperilaku. Supaya “Insya Allah” yang seharusnya adalah janji, malah digeneralisasi menjadi istilah untuk ingkar janji.

Meet Meo

Posted on

Kependekan dari Romeo, cuma menurut gue panggilan Romeo itu kurang lucu buat nama kucing. Umurnya setahun jalan, dan bulan ini dia resmi bukan perjaka lagi. Kerjaannya ngikutin emak gue ke kulkas untuk minta keju selembar setiap pagi. Orang yang jual bilang dia persi medium. Apa pun jenisnya dia, intinya dia lucu banget. Ralat. Ganteng. Meo itu kucing ganteng. Dan dengan banyaknya betina-betina yang hampir “siap”, gue udah tahu pas beli dia, kucing ini bakal jadi “Raja Minyak”

Tidurnya geletakan di mana-mana. Dan gak sembarang geletakan, tapi mana pun yang beralaskan sesuatu yang dingin; lantai, tanah lembap, nyender tembok. Gak kayak kucing lain yang suka meringkuk di anget-anget, kalo Meo diangkat ke kasur buat tidur, 10 menit kemudian dia bakal turun lagi, menuju sudut dingin yang adem. Kayaknya dia udah kepanasan karena bulunya yang kelewat tebel.

Sayangnya, kebiasaannya tidur di tempat sejuk gak didukung dengan stamina usus yang kuat. Karena apa? Karena dia punya penyakit kambuhan. Penyakitnya gak jauh-jauh dari penyakit kambuhan emak gue, kembung. Kenapa kambuhan? Karena cuma kambuh pas udara Malang lagi dingin.

Beda dengan kucing-kucing ras yang biasanya anteng di dalam kandang, yang satu ini sejak umur 3 bulan udah paling ogah ditaro di dalam kandang. Dia akan berontak tiada akhir sampe akhirnya suatu kali dia bisa meloloskan diri lewat pintu kandang yang dikunci dan gak pernah lagi gue naro dia di kandang buat tidur. Dari pada kejepit, hayo?

Kucing bawel ini suka banget godain Uya, kura-kura bantet yang ada di rumah gue. Umur Uya udah 8 tahun, tapi gedenya cuma segede telapak tangan gue. Hidup bareng di kolam butek bareng 1 lele monster dan 7 lele abri, Uya sering naik ke pinggir kolam buat berjemur kalo siang hari lagi terik. Unfortunately, Meo yang suka gak bisa nahan diri kalo liat barang bergerak, suka ngedorong-dorong Uya yang udah susah payah manjat dinding kolam sampe akhirnya jatoh lagi ke kolam. Mungkin sebel karena makanannya, yang piringnya ditaro di pinggir kolam, suka diambil sama si kura-kura bantet.

Makan sisa es krim sisa gue, jilatin adonan sisa kue, nguber-nguber bola plastik, perang sama boneka, mungkin biasa. Yang agak gak biasa mungkin kecintaannya sama penebah. Terutama kalo lagi goler-goler di karpet. Bersihin muka, bersihin pantat, nyante, tidur, semuanya dilakukan dekat kalo gak nempel sama penebah. Menggemaskan.

I should’ve named him Lemon, for the yellowness, the happy spirit, the sourness when he’s cranky, and the funny smell of a cat.

Kalap di TBK* di Jakarta

*Toko Bahan Kue

Niat awal ke Jakarta sebenarnya cuma hadir ke nikahan temen. Tapi lalu, si tuan rumah yang menampung gue, yang tak lain adalah bulik gue dan nDut, sepupu gue, meracuni gue untuk tinggal lebih lama. Mereka bilang, rugi amat ke Jakarta cuma 4 hari? Kamu kan belum tentu ke sini lagi pas nanti liburan. Sepupu gue malah nambahin, you need to hibernate. Yaah, gue emang nggak bisa bilang kalo gue gak butuh liburan, karena, sumpah, otak gue emang lagi sumpek abis di Malang dan gue emang butuh banget liburan. Dan liburan tak terencana itu pun semakin lengkap dengan turunnya honor dari terjemahan novel terakhir gue, bleehehehehe…. *big grin*

Sebelum rencana extended vacation, gue emang udah rencana mo berburu peralatan kue. Rencana awal cuma mau ke Titan (Fatmawati) Tapi berhubung liburannya diperpanjang, gue pun berhasil mampir ke Toko Ani (Senen), Ingredients (Radio Dalam dan Pesanggrahan) sama Trinity (Puri).

Gue berangkat dari Malang dengan niat lurus, nyari loyang bongkar pasang buat bikin cheesecake. That’s it. Sumpah, itu doang. Tapi niat tinggallah niat, karena begitu gue menginjakkan kaki di Ingredients Radal, gue hilang akal. Kilau panci-panci stainless, mikser Kitchen Aid idaman, warna-warni sugar dust, wangi butter dan esens yang harum banget, bikin otak gue berkabut (lebay deh). Esens almond, vanili, dan loyang lonjong, masuk ke keranjang mungil yang disediain Ingredients. Not bad, ternyata gue tidak sekalap itu.

Next destination, Titan. Kesan pertama… well, gue pikir gue akan masuk ke toko se”lucu” Ingre, tapi ternyata Titan mirip Avia yang ada di Malang. Kalo untuk bahan-bahannya, jelas emang lebih heboh dari pada Avia lah. nDut dapet butter cream siap kocok Hollman. Di sinilah gue dapet loyang bongkar pasang. Itu dan… kuas. That’s it.

Semua itu belum apa-apa, sampe gue nyampe ke Toko Ani. nDut udah ngingetin supaya “ati-ati” masuk Toko Ani. Damn it, she was right. Packed up with Wilton products, this little store is like heaven for pastry chef. Apalagi gue! Masuk ke toko ini kayak masuk ke dunia lain yang menyenangkan (uhm, tapi mungkin hanya untuk para bakers kali ya) Dari luar sih biasa aja, tapi pas udah masuk, haloo… barang-barangnya kualitas hotel getoo! Gue yakin, kalo ni toko kebakaran (amit-amit… *tok, tok, tok*), kerugiannya bisa sampe milyaran. Secara setoples cookie cutter bentuk bunga aja harganya setengah juta, palet segede gaban (literally), dua setengah juta, chef knive, 450rb *pingsan* Dan… akhirnya gue berhasil menemukan vanila ekstrak! *girang* That and… a lot, like a lot, other stuff. Kalo gue stay lebih lama lagi, gue yakin gue gak balik lagi ke Malang pulang karena bangkrut.

Beli peralatan kue doang gak lucu dong, kalo tanpa latihan bikin kue. Jadilah gue nyoba bikin cake kukus bareng nDut. I was encouraged to try decorate the cupcake with fondant. Semua juga tahu kalo cupcake decoration itu emang lucu abis, tapi gue belum terlalu tertarik buat benar-benar melakukannya. But, I did it anyway, because if I think it’s kinda cute, why shouldn’t I try to give a try? The result? Yah, lumayan lucu lah, buat seorang amatir.

Amatiran

Dan juga cokelat cupcake kukus yang cookelaat.. banget rasanya :)

Abaikan kue bolong-bolong yang di belakang.

 

Update:

Kayaknya detil berikut ini cukup berguna melihat traffic yang lumayan tinggi buat posting gue yang satu ini:

Toko Ani (Wilton’s International Distributor)

Jl. Gunung Sahari I No. 5, Jakarta 10610
Phone. (021) 4211286 – 4253109 – 38904460
Fax. 021 421 1284

–> Toko ini deket banget sama Terminal Senen. Kalo turun dari bis di depan pintu masuk, konon, dengan tanya sama para penjual yang banyak banget di situ, mereka pada tau apa dan di mana itu Toko Ani saking terkenalnya.

in•gre’di•ents:

Pesanggrahan Raya No.72                                                 
Jakarta Barat.
Telp: (021)5872829
 
Radio Dalam Raya No.14C
Jakarta Selatan.
Telp: (021)7204039

–> in•gre’di•ents: (yes, this is how the actually write their shop name) yang ada di Radio Dalam sejauh gue tau gada kursus masak kayak yang di Pesanggrahan. My fave shop!

Titan

Jl. RS Fatmawati no 22A
Cilandak Barat
Jakarta Selatan 12430
Telp: +6221-7692329
Faks: +6221-7668137

–> TBK wajib para bakers di Jakarta. Sering banget jadi rujukan.